[Wawancara] With Nadia Silvarani – Cerita Seru di Baik Layar Pembuatan Novel Love in Kyoto

12/04/2016

Ohayou… minna.....

Sudah pada tahu dong sama salah satu penulis yang karyanya sudah banyak banget. Hayo, siapa coba? Itu loh Nadia Silvarani yang merilis novel terbarunya untuk serial Araound The World With Love 3. Sudah pada tahu kan dengan judul novelnya? Yupz… betul sekali. Love in Kyoto.
Ada yang sudah punya novelnya? Yukk..ah.. ke toko buku. Ceritanya seru loh. Apalagi ngambil setting tempat di Kyoto. I like it. Jujur, aku gak nyangka loh Mba Silva bakalan ngangkat kisah yang berbau Jejepangan, karena di dua seri sebelumnya ngambil setting di Eropa seperti Paris dan London.
Penasaran, serunya pembuatan novel Love in Kyoto ini? Yukkk… simak wawancaranya di bawah.




Untuk ATWWL 3 ini kenapa memilih Kyoto sebagai setting tempatnya?

Alasan pribadinya sebenarnya karena saya ingin mengangkat cerita dengan setting di Asia. Setelah dua novel Around The World With Love sebelumnya ber-setting di benua Eropa (Love In Paris dan Love In London), saya terpikirkan untuk menulis cerita dengan latar tempat di kota yang ada di Asia.
Terpilih Kyoto karena selain saya suka budaya Jepang, saya melihat Kyoto adalah kota yang begitu kental budaya tradisionalnya. Sampai suatu saat, saya mendengar cerita tentang zaman penjajahan Jepang dari eyang saya. Dari situ, imajinasi saya "terbang-terbang" dan terwujudlah sebuah karya "Love in Kyoto".

Apakah sebelumnya sudah pernah menulis novel yang ada unsur-unsur Jepang-nya?

Belum. Dulu waktu SD saja pernah menulis fanfiction dari anime Rurouni Kenshin (Yaaah... lupakan ocehan saya 😄).
Wah…aku baru tahu kalo Mba Silva sudah nulis fiksi dari SD. Suge. Kok, jadi envy yah..

Kenapa memilih desainer sebagai profesi Veli?

Saya mencoba mencari profesi yang bisa menjadi jembatan antara budaya Indonesia dan Jepang. Tiba-tiba saya terpikir kimono. Jadi, terbentuklah profesi Veli si tokoh utama sebagai desainer.

Memang desainer bukan satu-satunya profesi yang bisa menjadi jembatan budaya kedua negara ini, bisa dibuat penari, musisi, bahkan koki. Akan tetapi, entah yang terbesit di pikiran saya adalah kimono dan kain tradisional nusantara. Apalagi, pakaian tradisional Jepang ini anggun dan sopan (karena biasanya tertutup).
Betul sekali, apalagi untuk kimono itu ada tujuh lapis dan yang sering di pakai saat musim panas yukata. Dibandingkan kimono, yukata lebih populer di Indonesia.

Dari novel Mba Nadia yang aku baca pasti ada unsur-unsur islamnya. Seperti di Love in London, Bintang menjadi lelaki yang religius. Di sini pun surat Al-Zalzalah telah membuat seorang samurai menjadi mualaf. Kenapa Mba memilih surat Al-Zalzalah di Love in Kyoto?

Yap! Mengenai unsur islam, saya mencoba menyesuaikan dengan visi dan misi novel serial Around The World With Love yang mengedepankan unsur cinta dan iman dalam alunan cerita. Akan tetapi, saya benar-benar berusaha agar tidak terkesan menggurui. Apalagi mengingat bahwa saya sebagai yang menulis juga sekalian banyak belajar.

Untuk Love in Kyoto, sebenarnya banyak pilihan ayat Al-quran yang saya timang-timang sebelumnya untuk diangkat ke novel ini. Namun, saya memang fokus hanya mencari satu atau dua ayat yang paling sesuai dengan jalan cerita.

Jadi, saya balik lagi ke salah satu tokoh di novel ini, yaitu seorang samurai tentara Jepang (Hideyoshi Sanada) yang telah banyak membunuh orang (beberapa di antara korbannya pasti orang Indonesia yang sedang dijajah negara Jepang pada waktu itu). Hideyoshi berpikir bahwa Melati (gadis Jawa yang sedang dekat dengannya dan keluarganya ada yang meninggal di tangan tentara Jepang) pasti senang mendengar kabar bahwa Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh sekutu. Keluarga Hideyoshi yang tinggal di Hiroshima habis.

Nyatanya, apa reaksi Melati? Dia tidak merasa senang atas kejadian yang melanda bangsa si penjajah (Jepang). Reaksi ini jelas membingungkan Hideyoshi yang merasa Melati harusnya senang karena dendamnya kepada tentara Jepang terwujud.

Di sini, Melati menjawab. Menurutnya, balas dendam itu bukan tugas manusia. Karena sudah menjadi ketetapan Allah di surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan dan kejahatan akan dibalas kejahatan. Bagi seorang samurai yang banyak membunuh, penuh dendam dan berpikir Melati seharusnya juga dendam pada dirinya yang seorang penjajah kejam, jawaban Melati dan surat Al-Zalzalah itu bagaikan tamparan sekaligus siraman rohani buatnya.

Itulah alasan saya menjadikan surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 sebagai ayat yang menarik Hideyoshi untuk menjadi muallaf. Islam cinta damai. Islam tidak "menugaskan" umatnya untuk membalas dendam atau senang dengan penderitaan musuh. Karena semua kebaikan dan kejahatan sudah diatur oleh-Nya dan atas seizing-Nya.

Setuju! Balas dendam itu tidak baik.

Boleh diceritain dong mba kesulitan membuat novel Love in Kyoto? Apakah ada kisah-kisah menarik dibalik pembuatan novel ini?

Mungkin ini agak konyol, tapi beneran terjadi. Proses penulisan Love in Kyoto lebih lama daripada Love in Paris atau Love in London. Kalau biasanya penulis lancar menulis karena sudah pernah ke kota yang menjadi latar cerita, kalau saya sebaliknya. Saya belum pernah ke Paris dan London. Jadi, waktu banyak dituangkan untuk bertanya kepada teman yang pernah kesana atau riset-riset sendiri di internet.

Saya pernah liburan ke Jepang. Salah satunya ke Kyoto. Jadinya riset memang tak lama, tapi selama menulis malah jadi baper melihat-lihat video jalan-jalan saya kemarin. Lalu, berhenti nulis dan malah lihat-lihat video. Malah kangen Jepang. Buang-buang waktu kan? 😀.

Kisah menarik lainnya, ada beberapa tokoh yang saya terinspirasi dari teman-teman saya. Mereka
pun bersedia kalau selama menulis kemarin, sosoknya wara-wiri di benak saya 😀.
Duh, senengnya jadi tokoh inspirasi untuk novel Mba Silva. Mau dong mba, gak apa-apa jadi tokoh pembantu juga. Hehe…

Demikianlah wawancara dengan Nadia Silvarani. Gimana? Makin tertarik kan untuk adopsi novel Love in Kyoto. Nantikan juga ya review-nya di blog ku.


Terima kasih banyak untuk Mba Silva yang menyempatkan waktu sibuknya untuk diwawancarai. Arigatou gozaimashita.

______________

Noted : Semoga Mba Nadia Silvarani suka dengan hasil karikatur foto di atas. Maaf ya Mba kalau hasil editan ku kurang bagus.

You Might Also Like

0 comments

Follow Me

Goodreads Reading Challenge

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Yuuki has read 2 books toward their goal of 100 books.
hide

Subscribe