Review Novel ALIAS by Ruwi Meita

3/03/2016

______Blurb
“Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk menitik satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak berbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telapak tangan yang beku.”

Sebuah liontin menuntun Jeruk pada sebuah nama, Rinai. Sebuah nama yang digunakannya untuk memulai kiprahnya sebagai penulis misteri. Namun, misteri ternyata tidak hanya terjadi  di novel fiksi buatan Rinai. Satu per satu korban mulai berjatuhan sesuai dengan kisah di dalamnya. Kini, Jeruk harus berpacu dengan waktu, sebelum lebih banyak lagi korban berjatuhan. Ataukah kali ini, Jeruk sendiri korabnnya?

Judul : ALIASAuthor : Ruwi Meita
Penerbit : Rak BukuHalaman : ii + 236 hlmCetakan : pertama, 2015ISBN : 978-602-732-301-8
Review ______

"Aku di dalammu. Kau di dalamku. Datanglah lebih rapat dalam gelap dan kamu akan melihatku. Aku sudah menunggu terlalu lama. Menunggumu.'' Hlm. 51

Setelah novel Misteri Patung Garam yang menegangkan, aku menantikan novel satu ini “Alias” banyak yang bilang novel ini bikin kita tak berani mentap cermin, bahkan pergi ke kamar mandi. Itu, benar. Aku menyetujui pendapat itu.

Awalnya, perasaanku biasa saja, dibuka dengan cerita yang akan menentukan kemana kisah ini akan dibawa. Seolah diajak jalan-jalan ke tempat yang berbeda. Lalu, terfokus pada kasus pembunuhan yang ternyata sama dengan apa yang ada pada novel Rinai. Nama alias yang dipakai Jeruk untuk novel misterinya. Jeruk sendiri seorang penulis romance yang karyanya sudah melejit, bahkan beberapa karyanya di adapatsi ke dalam sebuah film. Jeruk sebenarnya ingin dari dulu menulis novel horror, namun romance justru menjadi passionnya. Terlebih pribadi Jeruk yang manis tidak akan ada yang percaya jika dia menulis novel horor.

Semenjak Rinai muncul popularitasnya mulai mereda. Kontrak Filmnya dibatalkan karena sang sutradara lebih tertarik dengan novel Rinai. Jelas, itu pukulan yang berat bagi Jeruk. Dia bahkan harus menunggu bertahun-tahun untuk karyanya dinikmati banyak orang. Sedangkan Rinai yang baru muncul dengan dua novelnya dengan mudah menyita perhatian publik. Walau Jeruk sendiri yang menulisnya, tetap saja orang-orang tahunya Rinai. Penulis misterius. Selama ini yang mengurus ke penerbit adalah sahabatnya, Darla.

Sayangnya, pembunuhan yang terjadi itu sama dengan yang digambarkan dalam novel Rinai. Bukan hanya satu kasus, beberapa kasus yang tertera pada novel Rinai menjadi kenyataan. Jeruk sangat terkejut dengan pemberitaan itu, polisi pun mulai mendesak Darla agar mempertemukannya dengan Rinai. Keadaan mulai kacau, dan semakin kacau saat Meet and Greet berlangsung. Jeruk begitu saja meninggalkan acara. Bukan tanpa sebuah alasan, melainkan dia melihat sosok yang selama ini menghantuinya. Jeruk tahu siapa dia. Keganjilan lainnya mulai menyerbu hari-hari Jeruk, ponsel Rinai yang seharusnya ada pada Darla, tiba-tiba ada di tasnya. Status di Facebook Rinai yang Jeruk sendiri tidak yakin dia yang menulisnya. Membuat Jeruk semakin gila dengan keadaan. Mimpi buruk yang selalu menyapa dalam bunga tidur selalu datang setiap malam.

Lelaki asing yang menyapanya di toko buku, datang bersama Utinya. Eru, dia memang menolong neneknya yang pergi begitu saja meninggalkan rumah. Utinya pun, menahan Eru untuk tidak pergi. Jeruk semakin curiga dengan lelaki itu, namun Uti akan marah jika Eru pergi. Jeruk pasrah untuk satu hal itu. Kehidupan Jeruk tidaklah bagus, karena Utinya sekarang tidak dapat mengenalinya. Jeruk, terkadang harus berkali-kali mengatakan bahwa dirinya adalah cucuknya. Namun, Uti semakin tidak mengenali Jeruk. Jeruk menjadi orang asing bagi Uti, sedangkan Eru dianggap sebagai cucunya sendiri. Sungguh tidak adil.

"Ini bukan sekedar balas dendam. Rinai ingin hidup kembali melalui kamu.'' Hlm. 177

Dalam setiap keadaan bayangan hitam itu selalu mendatangi Jeruk. Jeruk semakin kesal karena selalu kehilangan dia. Hingga kepingan-kepingan puzzle pun mulai tersusun. Eru menceritakan, siapa dirinya. Rinai yang akhirnya muncul secara utuh di depan Jeruk. Bagaimana bisa orang yang sudah mati puluhan tahun yang lalu terlihat? Alasan dibalilk Rinai bangkitpun terjawab. Namun, pembunuhann itu tak juga berhenti. Kali ini korbannya orang-orang yang Jeruk sayangai. Nenek yang sangat dia sayangi. Darla, sahabat Jeruk dari kecil. Alan, kekasihnya yang ternyata tak sebaik yang dia kira. Jeruk semakin kacau dan murka. Rinai memaksa meneruskan novel itu, tapi Jeruk menolaknya. Dan, ancaman Rinai tidak main-main. Korban selanjutnya Eru. Dengan terpaksa Jeruk meneruskan novel itu. Namun, bukankah jika dilanjutkanpun Eru akan terbunuh?

"Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Pada beberapa bagian kita sama....'' hlm.193

Dendam memang begitu mengerikan. Seperti mulut yang bisa lebih tajam dari pisau. Dan hati yang lebih buruk dari ego. 

Aku mengalami dejavu membaca novel Alias, karena tema ceritanya sama dengan komik light novel yang tengah aku baca. Kalau untuk alur cerita tentu saja berbeda. Di sini seorang novelis yang karyanya menjadi kenyataan. Sedangkan di komik adalah seorang komikus yang semua tulisannya menjadi kenyataan. Walu sama-sama mengangkat pembunuhan. Novel Mba Ruwi lebih membuat bulu kudukku merinding. Oh, Tuhan saat menulis ini Rinai seakan muncul di sampingku. Padahal aku menulisnya sambil mendengarkan musik.

Aku akan selalu jatuh cinta dengan novel Mba Ruwi, bahkan adikku yang gak suka baca tergila-gila dengan karya beliau.

4.5* untuk novel Alias


You Might Also Like

0 comments

Follow Me

Goodreads Reading Challenge

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Yuuki has read 2 books toward their goal of 100 books.
hide

Subscribe