[Novel - Review] BOTCHAN

11/05/2015

Hallo, saatnya review novel

Review kali ini sebuah novel klasik karya Natsume Kinnosuke atau yang lebih popular dengan sebutan Soseki, salah satu penulis terbesar dalam sejarah kesusatraan Jepang.

__________ SINOPSIS _________

Seperti cerita The Advenuters of Huckleberry Finn, BOTCHAN mengisahkaan pemberontakan seorang guru muda terhadap ''sistem'' disebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura pura sering kali ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Cerita yang dituturkan secara harmonis ini sangat populer dikalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang moderen. 




Judul : Botchan
Penulis : Natsume Soseki
Penerjemah : Indah Santi Pratidina
Cetakan ke : 5
Halaman : 224 hal
Isbn :  978-979-22-8749-3
Penrbit : Gramedia Pustaka










__________ BOTCHAN  __________

Apa kalian tau arti Botchan yang sebenarnya?  Sesungguhnya Botchan sendiri tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Namun pada dasarnya Botchan merupakan panggilan sopan untuk anak laki-laki, terutama ketika mereka masih anak-anak dari keluarga terpandang. Sapaan tersebut sama dengan ''tuan muda'' dapat juga diartikan sebagai seseorang yang agak manja dan menuruti kemauannya sendiri karena latar belakangnya. Namun tahukah kalian maksud Botchan pada novel ini adalah penulis ingin menyampaikan perasaan kasih sayang dan kesetiaan Kiyo si pelayan tua kepada tokoh utama Botchan.

Botchan adalah anak yang ceroboh dan mudah dihasut. Seperti ketika dia SD loncat dari gedung lantai dua karena temannya mengatai dia pengecut tidak berani lompat. Tanpa pikir panjang dia langsung loncat. Selanjutnya, kisah yang satu ini lebih mengerikan suatu hari dia diberi pisau buatan luar negeri oleh kerabat keluarganya, lalu memamerkannya pada teman-temannya.

"Mengkilat si, memang,  tapi pasti tidak.tajam.'' hal-12.  Sebagai pembuktian dia pun membeset ibu jari kanannya. Dan kekonyolan lainnya yang membahayakan nyawanya. 

Sifat cerobohnya itu, tidak mendapat perhatian lebih dari kedua orang tuanya. Dia dibiarkan seperti itu, begitupun dengan kakanya yang tidak peduli dengannya. Hanya Kiyo yang menyayanginya dan menganggap Botchan adalah anak baik. Walau berulang kali dia menimbulkan masalah yang membuat kedua orang tuanya pusing.  

Hingga kedua orang tuanya sendiri berucap bahwa Botchan hanyalah anak berandal yang tidak akan jadi apa pun. Tentu saja Botchan menyadari hal itu karena dia memang tidak pernah jadi apa-apa. Hingga ibunya meninggal, lalu disusul oleh ayahnya. Kakaknya yang tidak ingin hidup bersama Botchan menjual rumah mereka. Botchan tinggal sendiri, kiyo tidak bisa menemani Botchan karena dia tidak punya uang, lalu tinggal di rumah keponakannya. 

" anak.itu tidak akan pernah jadi apapun." Hal-14

Dengan uang 600 sen pemberian kakaknya sebagai ucapan perpisahan. Botchan yang tidak mungkin membuka usaha, dengan kecerobohannya dia melakukan kesalahan dengan masuk ke Sekolah Ilmu Alam Tokyo. Walau seperti itu dia adalah orang yang bertanggung jawab dengan keputusannya. 

Selama tiga tahun dia dapat menyelesaikan sekolahnya. Dengan perjuangannya selama itu dia selalu berada diurutan bawah dikelasnya. Botchan sebenarnya curiga kenapa dia bisa lulus, tapi dia tak berani menanyakannya. Hingga di hari kelulusan kepala sekolah menawarkan pekerjaan menjadi guru matematika di Shikoku dengan gaji 4 yen. Lagi. Kecerobohan alamiahnya membuat dia menrima tawaran itu dengan penyeselannya sendiri. Bahkan selama ini dia tak pernah berpikir untuk menjadi seorang pengajar. Sekali lagi dengan sifat buruknya, dia adalah orang yang bertanggung jawab dengan keputusannya. 

Di desa Shikoku dia mencoba peruntungannya. Namun apa daya pertama kali menginjakkan kaki di desa tersebut dia tidak menyukainya. Semua guru disekolahan dia juluki satu persatu. Kepala Sekolah Tanuki yang selalu berputar-putar ketika berbicara, Kepala Guru seorang sarjana sastra yang suaranya agak feminim dan selalu memakai kemeja flanel merah, dia menjulukinya si kemeja merah. Guru Bahasa Inggris Koga yang memiliki rona wajah pucat yang menghawatirkan, mendapat julukan Si Labu. Guru Matematika lain Hotta dia menjulukinya si landak. Guru Kanji yang bersikap formal. Guru Seni Yoshikawa yang mendapat julukan si badut. 

Kesialannya adalah dia dibully oleh muridnya sendiri. Tidak tanggung-tanggung ketika bertugas malam para siswa menempatkan belalang di futonnya (Kasur) membust Botchan geram. Dia dulu juga anak nakal tapi dia tidak pernah mengerjai gurunya. Sayangnya sistem di sekolah tersebut aneh, kenakalan anak-anak yang sudah tidak bisa ditolerin itu dipandang biasa saja oleh Kepala Sekolah Dan Kepala Guru Si Kemeja Merah. Dan memaafkn perbuatan anak-anak tersebut. Semua guru setuju, kecuali Hotta, dia berpikir dengan bijak bahwa anak-anak tersebut harus mendapat hukuman agar jera. Disini Botchan merasa mendapat keadilan, walau dia sempat marah karena hasutan dari Si Kemeja Merah. 

"Hanya karrna seseorang pandai beragumen, tidak berarti orang itu baik. Sama halnya seseorang yang dikalhakan dalam argumen adalah orang jahat.'' Hal - 155 

Semua masalah yang timbul adalah karena ulah Si Kemeja Marah Sang Sarjana Sastra yang pandai bersilat lidah. Dibandingkan Botchan, walau dia ingin berbicara banyak tapi dia tidak pandai beragumen kata-katanya akan berhenti dan tentunya akan kalah. Pertama yang menyebarkan soal udon, tempura, handuk merah, lalu Koga yang pindah tugas karena sebelah pihak agar Si Kemeja Nerah bisa dengan leluasa mendekati tunangan Koga, yang mendapat julukan Madona gadis cantik di desa itu, yang terburuk adalah ketika mereka mererai.perkelahian murid asuhnya dengan murid SMK, sedangkan di koran tersebar bahwa Botchan dan  Hotta lah yang menghasut anak-anak berkelahi.

Setelah kejadian itu hanya Hotta yang diberhentikan. Botchan yang tidak terima berbicara kepada Kepala Sekolah soal pengunduran dirinya. Kepala sekolah menahannya karena sekolah itu akan kekurangan pengajar. Namun Botchan tetap pada keputusannya, sebelum Hotta dan Botchan pergi mereka memberi pelajeran kepada Si Kemrja Merah, manusia pengecut. Bagi keduanya untuk menjunjung tinggi keadilan adalah dengan sebuah tinjuan. Seseorang dengan latar pendidikan sastra tentu memiliki kosakata yang baik dalam beragumen, sedangkan Botchan adalah orang yang blakblakan dan tidak pandai bicara, dan Hotta tidak memiliki banyak kosakata. Hotta dan Botchan menghajar kedua makhluk tersebut hingga tak berkutik. Setelah merasa puas Mereka kembali ketempat asalnya.

"Aku tidak akan pernah pergi kepedasaan lagi  aku akan membeuat rumah di Tokyo dan hidup bersama mu.'' Hal-217

Botchan membeli rumah di Tokyo dan mengajak Kiyo tinggal bersama. Namun itu tidak bertahan lama karena Si Pelayan Tua meninggal akibat sakit paru-parunya.
"Botchan saat aku mati, aku mohon kuburkanlah aku di kuil keluargamu. Sehingga aku bisa menunggu bahagia sampai kau datang '' hal 217 


Novel ini ditulis dari sudut pandang tokoh utama novel yaitu Botchan. Membaca novel ini seperti sedang membaca buku diary, lebih dari itu Botchan seolah ada dihadapanku dan menceritakan kisahnya. Alurnya mengalir dan ringan. Hal menarik lainnya dari kisah ini adalah menuangkan kasih sayang Kiyo Si Pelayan Tua terhadap Botchan begitu romantis. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih. 

Sifat Botchsn yang ceroboh dan blak-blakan serta mudah dihasut bagiku dia hanyalah terlalu polos. Sifat seperti itu memang bisa membawa lebih pada keburukan. Walau begitu, aku suka rasa percaya diri, bertanggung jawab dan menegakan keadilan yang ada pada dirinya. Dia juga orang yang tidak suka membuat kerugian pada orang lain serta tahu aturan dalam bersosialisai.

Sebagai penutup ada sedikit wejangan nih “Dalam hidup kita jangan mudah terhasut karena mata kita terkadang tertutup tidak bisa membedakan mana orang-orang yang baik dan mana orang-orang yang memiliki niat buruk.”


You Might Also Like

0 comments

Follow Me

Goodreads Reading Challenge

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Yuuki has read 2 books toward their goal of 100 books.
hide

Subscribe