[Novel-Review] Novel Denting Lara - K. Fischer

10/17/2015



Halos semuanya..
Bagaimana kabar hari ini? Aku lagi semangat nih,karena akhirnya selesai baca Novel karya Mba Uti. Ketika yang lain tengah asyik baca Novel Berlabuh di Lindoya, aku masih di belakang. :’( Sebenernya emang mau bertahap si, selanjutnya baca yang Blue Vino dulu sebelum baca Berlabuh Di Lindoya (Barang kali ada yang mau ngasih novel gratis – Ngarep). Ada satu alasan kenapa aku bertahap membacanya, jeng, jeng, aku kagum loh sama Mba Uti. Novelnya keren banget, 5 bintang untuk Mba Uti. 
Yukkk…. ah saatnya rivew…………………
Waktu beli novel Denting Lara, agak ragu-ragu karena tebel takut ga seru jalan ceritanya, kaya kemaren-kemaren beli novel baru seperempat udah ga asyik, jadinya baca awal sama akhirnya doang. tapi karena jiwa penasaran ku lebih gede, akhirnya di beli juga.  Woww... diluar dugaan Denting Lara novel yang membuat ku kesal, marah, dan menyayat hati.

Novel ini bercerita tentang anak remaja yang tidak mendapatkan kasih sayang karena sebuah perceraian kedua orang tuanya. Esa tinggal bersama ibu dan Bi Titin pengasuhnya dari kecil. Namun, Ibunya sibuk dengan dirinya sendiri sampai Esa terabaikan jauh dari kasih sayang. Ayahnya menikah lagi tapi dia tidak bisa ikut ayahnya karena ibu tirinya tidak menginginkan Esa. Di sekolah dia ditinggilkan sahabatnya, bahkan lebih parah dari itu dia juga dikucilkan. Hidup Esa pun berubah sejak kehadiran Erik, dia sekarang tidak hanya berdua dengan Bi Titin. Namun ada lelaki yang mengajarkan tentang kebahagiaan.

Judul : Denting Lara
Penulis : K.Fischer
Penerbit : Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer
Halaman : X & 317 halaman
Tahun Terbit : 2015
ISBN 10 : 602-249-867-8
ISBN 13 : 978-602-249-867-4


Belum setengahnya aku membaca Novel ini air mataku sudah berjatuhan. Dadaku benar-benar sesak melihat Esa hanya makan nasi goreng karena Ibunya tidak memberikan uang dapur ke Bi Titin. Sedangkan di luar sana ibunya mungkin sedang makan enak. Seorang ibu yang seharusnya memberikan asupan gizi yang baik dan memberikan perhatian khusus justru mengabaikan anakanya sendiri. Membaca novel ini aku merasa di dunia memang ada sosok ibu yang seperti itu.

Disisi lain aku salut pada Esa, dengan keadaan keluarganya yang super berantakan, dia tidak menjadi anak berandalan malah sebaliknya dia dikucilkan oleh teman-temannya, bahkan oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil, bahkan mereka dapat julukan anak kembar. Kini Esa hanya hidup berdua dengan Bi Titin, ayahnya hanya mengurusi uang bulanan saja.
Tuhan berkehendak lain, Erik hadir menghiasi hari-hari Esa. Berkat Erik, Esa menemukan hidupnya kembali, bertemu banyak orang yang menyukai musik klasik, tempat-tempat sederhana namun penuh canda dan tawa. Tuhan memang tidak akan pernah membiarkan ciptaannya sendiri, akan ada satu cahaya yang menerangi.

Cinta beda usia. Aku belum pernah jatuh cinta pada lelaki yang usianya diatas 30 tahun, sekalipun dia ganteng. :D Jujur aku akui imajinasi ku tentang Erik dia terkesan pemuda usia 26 tahun tidak seperti kenyataannya bahwa usia Erik 34 tahun, mungkin karena pembawaan alur ceritanya yang sedap. Ya, untuk Esa cinta berkata lain, walaupun usia mereka jaraknya jauh banget kaya rel kereta (lebay) tidak menjadi penghalang bagi Esa maupun ErikOrang tua Esa lah yang menjadi penghalang keduanya. Ibunya yang bermaksud menjadikan Erik calon ayah baru bagi Esa, sedangkan ayahnya tidak setuju dengan perbedaan usia itu, terlebih Esa masih SMA perjalanan karir hidupnya bahkan belum dimulai. Hingga akhirnya Esa dan Erik memutuskan untuk berpisah.

“Bukan cinta kita yang salah, tapi waktunya. Yang kita miliki adalah cinta yang murni, tetapi pada waktu yang keliru.” - Hal.261

Secara keseluruhan aku suka alurnya, mengalir dan lepas. Penulis membawa kita merasakan penderitaan Esa, sedih, kesal, bahagia, dunia Esa yang hanya dia miliki. Walaupun novel ini tebel tidak akan pernah bosen untuk menyelesaikannya sampai akhir. Dari semua novel atau karya lainnya pasti kata-kata typo tidak pernah ketinggalan. Ini dia kata-kata typo pada novel Denting Lara :

Bahu Siska terkulai lagi. Ia tidak akan pernah dapat mengganti tema ini dari benak sahabatnya. "Sudah ada kabar baru?" -hal. 290

Seharusnya disana bukan "Siska" melainkan "Saskia", sahabat Esa. 
Nah, yang belum baca Novel Denting Lara aku saranin baca novel satu ini. Penasaran juga kan sama ending ceritanya? Setelah lima tahun Esa dan Erik bertemu lagi. Selama lima tahun juga Esa ga bisa move on dari Erik, lalu bagaimana dengan orang tua Esa? 
Saatnya kalian yang cari tahu sendiri endingnya. hehe... :D

You Might Also Like

0 comments

Follow Me

Goodreads Reading Challenge

2018 Reading Challenge

2018 Reading Challenge
Yuuki has read 2 books toward their goal of 100 books.
hide

Subscribe